Adat istiadat pengantin Jawa sesungguhnya bersumber dari tradisi Keraton. Dengan terciptanya adat istiadat perkawinan yang mengandung nilai- nilai luhur itu lahir pula seni tata rias pengantin dan model busana pengantin yang beraneka ragam. Dengan lewatnya waktu dan perkembangan zaman, adat istiadat tersebut lambat laun menembus sampai keluar tembok Keraton
Dalam adat Jawa sebelum panggih dilakukan serangkaian upacara antara lain Siraman, Paes/Ngerik, Midodareni, Upacara pernikahan/Ijab, Upacara Temu/Panggih. Adat Istiadat perkawinan gaya Surakarta/Solo dengan gaya Yogyakarta terdapat beberapa perbedaan dalam macam upacaranya. Perbedaan itu dalam upacara Siraman. Midodareni, Panggih dan kacar-kucur.
Untuk merias pengantin gaya Yogya Putrimemerlukan persiapan yang matang. Hal tersebut antara lain, pemilihan bahan kosmetik yang sesuai dengan jenis kulit pengantin, pemilihan perlengkapan yang akan digunakan pengantin. Perlengkapan tersebut antara lain busana pengantin, sanggul, perhiasan, dan rangkaian bunga. Baik untuk pengantin pria maupun pengantin wanita, harus dipersiapkan secara matang dan lengkap
Rias pengantin barat pada dasarnya hampir sama dengan riasan pesta, yaitu membersihkan wajah, memakai alas bedak, pelembab, make up, memekai gaun, memakai sleyer dan mahkota, akan tetapi lebih spesial dan khusus, terutama gaun dan perlengkapan lainnya. Titik tekan rias pengantin barat adalah pada riasan wajah, kemudian busana yang dikenakan dan perlengkapan lainnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar